Mendagri Dampingi Puan Maharani Buka Pekan Kerja Nyata Revolusi Mental

Pekan Kerja Nyata Revolusi Mental dari tanggal 25 sampai 27 Agustus 2017 resmi dibuka oleh Menteri Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Puan Maharani di Stadion Manahan Surakarta, Jumat (25/8).
Acara ini dihadiri oleh ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) dari seluruh Indonesia. Berbagai acara digelar sebelum pidato Puan Maharani mulai, ada marching band dari praja IPDN, parade Polisi cilik dan tarian maumere.
Hadir mendampingi Puan, Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo, Menkoplhukam, Wiranto, Menko Perekonomian Darmin Nasution dan menteri kabinet kerja lainnya. Hadir juga 11 Gubernur dari 34 Provinsi, 55 Bupati dan Walikota, 10 Rektor, 1.800 SKPD, 570 Camat dan 7.000 kepala desa se Jawa Tengah.
Dalam pidatonya Puan mengatakan Pekan Kerja Nyata Revolusi Mental 2017 adalah program prioritas dalam membangun karakter bangsa Indonesia agar berintegritas, beretos kerja dan berjiwa gotong royong untuk memajukan dan mewujudkan bangsa yang berdaulat, berdikari dan berkepribadian berlandaskan Pancasila.
“Melalui Intruksi Presiden no 12 tahun 2016 tentang gerakan nasional revolusi mental, setiap kementerian lembaga serta pemerintah daerah ditugaskan untuk mengambil langkah-langkah sesuai tugas dan fungsi dan kewenangannya untuk menjalankan gerakan nasional revolusi mental,” kata Puan.
Gerakan tersebut lanjut Puan diwujudkan secara nyata melalui aparatur sipil negara, lembaga, kementerian dan kepala daerah yang berorientasi untuk meningkatkan pelayanan publik.
“Kita harus meningkatkan pelayanan publik yang semakin baik, semakin ramah dan semakin simpatik bagi rakyat. Pelayanan yang tepat waktu, tepat prosedur, tepat biaya dan tentu saja memberikan kepuasan kepada rakyat Indonesia,” tegasnya.
Sementar Mendagri, Tjahjo Kumolo mengatakan Pekan Kerja Nyata ini adalah proses dimana kepala daerah harus mampu membangun inovasi termasuk sinergi antara daerah. Kemudian mampu untuk fokus memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat.
“Sekecil apapun kepala daerah harus mampu menggerakan dan mengorganisir masyarakat, dan mampu secara maksimal menyerap anggaran untuj mensejahterkan rakyatnya,” kata Tjahjo.
Tjahjo mencontohkan, Kota Surabaya punya kelebihan setelah magrib para pegawai Pemkot door to door ke rumah-rumah, ke RT menanyakan masyarakat apakah sudah punya KTP Elektornik, sudah merekam atau belum.
“Tidak hanya warga yang harus proaktif, tapi pemerintah juga jemput bola jadi hal sekecil apapun yang penting masyarakat merasa terayomi, merasa di orangkan, merasa dilayani,” ungkapnya.

sumber : kemendagri.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *