BJ Habibie : Bangsa Indonesia Jangan Mau Diadu Domba

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang ditakdirkan lahir dari keanekaragaman perbedaan latar belakang. Baik itu perbedaan latar belakang agama, adat istiadat, budaya, suku, ras dan lain sebagainya.
Dari perjalanan sejarah, bangsa Indonesia sudah berhasil melalui banyak rintangan dan hambatan. Termasuk berkembangnya paham komunis yang berseberangan dengan nilai-nilai Pancasila. Semuanya pun sudah diselesaikan dengan oleh para pendahulu bangsa.
Presiden ke-3 RI BJ Habibie, mengingatkan, ada banyak negara yang tidak bisa maju lantaran masih berkutat pada permasalahan masa lalu. Seharusnya, di tengah perkembangan global yang demikian cepat, masyarakat Indonesia bisa lebih memikirkan tentang apa yang bisa dilakukan demi kemajuan
“Saya tidak meluangkan waktu yang saya miliki yang hanya 24 jam sehari untuk menggali masa lampau. Itu salah. Banyak negara yang enggak maju-maju,” kata BJ Habibie ketika ditemui sesaat setelah memberikan kuliah umum peserta Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXI – TA 2017, Lemhannas RI di ruang Perpustakaan Ainun-Habibie, Patra Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (27/9).
Dirinya mengingatkan, jika masyarakat Indonesia jangan sampai terkena diadu domba dari pihak-pihak yang memunculkan lagi isu kebangkitan komunis. Sementara, pihak pengadu domba mengambil keuntungan dari apa yang sudah diperbuat.
Dikatakan, perjuangan pendahulu bangsa bukan berasal dari golongan, suku, agama ataupun kelompok tertentu. Perjuangan bangsa Indonesia dilakukan oleh semua golongan dan alangkah baiknya jika kondisi itu terus dijaga dengan baik.
Di era globalisasi seperti saat ini, perkembangan teknologi sudah demikian cepat. Serbuan informasi pun masuk ke Indonesia tanpa ada yang bisa mencegah. Termasuk serbuan budaya luar yang belum tentu sesuai dengan kearifan lokal yang dimiliki Indonesia.
Diingatkan Habibie, ketahanan nasional sangat tergantung dari kekuatan budaya yang dimiliki sebuah bangsa. Selain itu, ketahanan nasional juga harus didukung dengan kekuatan agama serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).
“Kalau anak cucu kita tidak diperkenalkan, dia dapat masukan dari budaya lain, dari internet. Ketahanan nasional muncul karena ketahanan budayanya. Kita tidak mungkin mengatakan tidak boleh masuk internet disini. Tidak berkembang ekonomi nanti,” ucapnya.
Karena itu nilai-nilai budaya, agama dan iptek mau tidak mau harus terus ditingkatkan. Caranya, dengan ikut memberikan dan menyebarluaskan informasi melalui internet terkait apa saja kekayaan budaya yang dimiliki bangsa.
“Tidak ada cara lain. Sulit sekarang membaca buku. Kebebasan yang diberikan untuk sumber daya manusia lebih produktif dan efisien dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan di dalam maupun di luar negeri. Indoktrinasi secara state of the art dibutuhkan, yakni budaya agama dan iptek,” ungkapnya.
Menurutnya, budaya itu jauh lebih tua dari pada ajaran agama. Agama yang tertua di dunia usianya 5.000 tahun, sedangkan budaya sudah ada sejak manusia diciptakan.
“Kita dalam hal ini tidak bisa ignore nilai-nilai yang ada di budaya tersebut. Tanamkan nilai pendidikan, budaya sejak masih dalam kandungan,” ujar Habibie.

sumber : beritasatu.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *